Opini  

Di Negara Hukum dan Era Digital, Gus Robi Ingatkan: Yang Asli Akan Terbukti

Jakarta — Memasuki awal Tahun 2026, Ketua Umum Lembaga Investigasi Negara (LIN), Gus Robi, menyampaikan refleksi tajam tentang arah perjuangan moral bangsa dan organisasi kemasyarakatan. Dalam pernyataannya, Gus Robi menyoroti dua wajah yang kerap muncul di ruang publik: yang Asli dan para Penunggang Gelap.

Menurut Gus Robi, “Asli” bukan sekadar label, melainkan sikap hidup dan prinsip perjuangan. Asli dimaknai sebagai sesuatu yang otentik, murni, jujur, dan tidak tercampur kepentingan tersembunyi. Sikap ini, kata dia, menuntut keberanian untuk berdiri di atas kebenaran meski sering kali harus berjalan sendirian.

“Yang asli itu lebih berharga dan akan selalu dihargai. Karena ia tidak berpura-pura, tidak menumpang, dan tidak bersembunyi di balik nama besar orang lain,” tegas Gus Robi.

Sebaliknya, Gus Robi mengkritik keras fenomena Penunggang Gelap—mereka yang memanfaatkan situasi, isu, bahkan penderitaan orang lain demi keuntungan pribadi. Penunggang gelap, lanjutnya, hadir tanpa nurani dan pergi tanpa tanggung jawab.

“Penunggang gelap mungkin terlihat untung dalam jangka pendek, tapi sesungguhnya mereka sedang merusak reputasi, kepercayaan, dan hubungan sosial. Tidak ada kepastian dalam langkah mereka, yang ada hanya keraguan dan kebimbangan yang sengaja diciptakan,” ujarnya.

Gus Robi juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Di era digital saat ini, hampir seluruh rekam jejak dapat ditelusuri secara online. Menurutnya, kebenaran tidak lagi sulit dicari—yang sulit justru adalah kejujuran untuk mengakuinya.

“Sekarang tinggal cek, semua bisa diketahui. Maka jangan lagi bermain di wilayah abu-abu. Cepat atau lambat, fakta akan berbicara,” tambahnya.

Refleksi ini disebut Gus Robi sebagai pengingat di awal tahun agar masyarakat, aktivis, dan aparat negara tidak salah memilih peran: menjadi pejuang yang asli atau sekadar penunggang gelap yang menunggu kesempatan.

Menutup pernyataannya, Ketua Umum LIN itu menegaskan bahwa waktu akan selalu berpihak pada keaslian.

“Yang asli mungkin tidak selalu menang cepat, tapi ia menang bermartabat. Sementara penunggang gelap, cepat atau lambat, akan tersingkap oleh perbuatannya sendiri,” pungkas Gus Robi.

Refleksi awal tahun ini menjadi sinyal bahwa LIN di bawah kepemimpinan Gus Robi meneguhkan komitmen untuk tetap berada di jalur nurani, hukum, dan kejujuran, di tengah hiruk-pikuk kepentingan yang terus berusaha menunggangi keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *