Bolsel – Proyek pembangunan jaringan air minum Bakida (DAKTEMATIK) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) yang menelan anggaran jumbo sebesar Rp 12.971.442.000 kini menjadi sorotan publik. Alih-alih memberi manfaat nyata, proyek yang digarap Dinas PU Bolsel tersebut justru diduga mangkrak dan menyimpan segudang kejanggalan.Penelusuran awak media di lapangan menunjukkan fakta memprihatinkan.
Pipa dan meteran air bersih yang dijanjikan belum sepenuhnya terpasang, bahkan banyak titik pekerjaan yang terbengkalai. Sejumlah warga mengaku kecewa karena hingga kini belum bisa menikmati air bersih dari proyek miliaran rupiah itu.“Kami dijanjikan akan dipasang pipa dan meteran air, tapi kenyataannya rumah kami tidak terpasang. Mana janji pemerintah itu? Hanya manis di bibir, tapi nol di lapangan,” ungkap salah satu warga dengan nada kesal.Lebih jauh, dari total perencanaan 420 sambungan rumah (SR), faktanya hanya sekitar 300 lebih SR yang benar-benar terpasang.
Artinya, masih ada sekitar 60 hingga 70 rumah warga yang sama sekali tidak tersentuh proyek ini. Hal ini jelas memperlihatkan adanya ketidakberesan dalam realisasi pekerjaan.Tak hanya itu, janji Pemerintah Kabupaten Bolsel yang disampaikan langsung oleh Sekda untuk membangun jalan beraspal sebagai bagian dari proyek ini juga hanya isapan jempol.
Hingga kini, jalan yang dijanjikan tak pernah terealisasi, menambah daftar panjang kekecewaan masyarakat terhadap kinerja Pemkab Bolsel.Lebih mengejutkan lagi, proyek bernilai miliaran rupiah ini ternyata tidak menggunakan pipa hitam Black Steel (BAJA HITAM) atau pipa HDPE (High – Density Polyethylene) standar sesuai aturan Kementerian, melainkan pipa biasa dengan kualitas rendah. Hal ini menimbulkan kecurigaan kuat adanya penyelewengan anggaran dan permainan kotor di balik proyek.“Kalau proyek besar pakai material murah begitu, jelas kami pertanyakan. Uang negara Rp 12 miliar lebih dipakai untuk apa? Jangan-jangan ada yang masuk kantong pribadi,” sindir warga lainnya.Masyarakat kini menuntut aparat penegak hukum, baik Kejaksaan maupun Kepolisian, untuk segera mengusut tuntas proyek yang diduga kuat sarat penyimpangan ini.
Publik menilai, skandal proyek air minum Bakida bukan sekadar soal keterlambatan pekerjaan, tetapi sudah mengarah pada pengkhianatan terhadap amanah anggaran negara.Jika dibiarkan, dugaan permainan anggaran dalam proyek vital ini bukan hanya merugikan negara, tetapi juga menambah penderitaan rakyat yang seharusnya menikmati fasilitas air bersih.












